Prihatin Kondisi Negara, Sejumlah Alumni Universitas Jember Serukan Gerakan Pemurnian Nasional

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
ARTICLE AD BOX

Liputan6.com, Jakarta - Gelombang keprihatinan kalangan cerdas pandai dari beragam kampus nan dinyatakan dalam penyataan sikap dan tindakan mimbar akademik dalam beberapa hari terakhir, telah menyedot perhatian dan solidaritas dari beragam kalangan. Tak terkecuali, sekelompok ahli alumni Universitas Jember (UNEJ) nan menamakan dirinya 'Forum Alumni UNEJ Untuk Perubahan'.

Sekitar 50 orang alumni kampus tersebut berkumpul di Bellevue Art Space, Cinere, Depok, Jawa Barat untuk mengeluarkan seruan moral agar para penyelenggara negara melakukan pertobatan moral dan kembali menghayati dan memanifestasikan nilai-nilai keadilan dalam Pancasila.

”Kondisi bangsa kita saat ini sedang pada momen memprihatinkan. Para elite politik tak mengindahkan etika bernegara,” ujar Koordinator Acara nan sehari-hari bekerja sebagai kurator seni rupa, Bambang Asrini, Minggu (4/2/2024) dalam keterangannya.

Menurut Bambang, terdapat potensi pelanggaran konsitusi nan serius dengan kejadian keberpihakan penyelenggara negara dalam proses Pemilu, dimana perihal tersebut menciderai angan publik agar kontestasi kerakyatan dapat berjalan secara jujur dan adil.

Hal tersebut dinilai sebagai pengabaian atas kewenangan asasi manusia dan kesejahteraan umum nan diamanatkan UUD 1945 serta pengingkaran atas etika sebagai pedoman kepantasan bertindak.

”Dengan mengandalkan hati nurani dan kewarasan berpikir dan bersikap, kami menyerukan sebuah aktivitas pemurnian nasional sekaligus pertobatan penyelenggara negara,” tegasnya.

* Follow Official WA Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

Bedah Buku

Pernyataan sikap alumni UNEJ itu diikuti dengan bedah kitab ’Bergerak dengan Kewajaran’ karya mantan aktivis anti korupsi nan pernah menjabat Menteri ESDM, Sudirman Said. Bedah kitab itu menghadirkan pembicara Arifi Saiman (diplomat/ mantan Konjen RI di New York), Satrio Budi Adi (dosen Administrasi Publik, Universitas Indonesia) dan Bambang Asrini (kurator seni rupa) dengan moderator Ratna Mulya Madurani (praktisi hukum).

Arifi Saiman dalam paparannya menyatakan bahwa isi kitab tersebut relevan untuk didiskusikan dalam situasi kebangsaan saat ini. Dalam kitab tersebut, Sudirman Said menggagas sebuah ekosistem integritas dimana masyarakat nan hidup dalam lingkungan tersebut bakal merasa malu hati andaikan melakukan tindakan-tindakan nan tidak wajar alias melanggar etika.

”Sudirman Said mengingatkan agar para pemimpin memahami batas-batas kekuasaan sehingga tidak terperangkap pada tiga jebakan, ialah jebakan ketenaran nan membikin lupa diri, jebakan korupsi lantaran kebutuhan membiayai ongkos politik, serta jebakan penyalahgunaan kekuasaan,” tuturnya.

Di sisi lain, pengajar UI, Satrio Budi Adi, nan turut menjadi pembicara obrolan tersebut, mengatakan bahwa kitab ’Bergerak dengan Kewajaran’ mengingatkan kembali publik bahwa rasa cinta tertinggi para penyelenggara negara semestinya diberikan kepada lembaga ’nation state/, bukan pada pemerintahan nan sifatnya hanya sementara.

”Kecintaan pada negara itulah nan membikin para pejabat publik alias penyelenggara negara tidak takut bersuara dan berbeda pendapat. Perbedaan pendapat merupakan tanda adanya buahpikiran alias pendapat nan sedang bergulir dan lantaran itu, kekuasaan semestinya tidak anti kritik,” jelas Satrio.

Sudirman Said nan menyempatkan diri datang dalam aktivitas tersebut menyitir kembali perkataan Proklamator RI Mohammad Hatta dalam sebuah aktivitas dies natalis (hari ulang tahun) Universitas Indonesia, mengenai tugas kalangan terdidik.

Bung Hatta, kata Sudirman, menggarisbawahi bahwa tugas intelegensia adalah memberikan keteladanan dan kepemimpinan dalam masyarakat. Jika intelegensia tak bersuara saja saat memandang ketidakadilan alias ketidakwajaran, maka mereka sesungguhnya telah berkhianat pada aspek keberadaannya.

”Hari-hati ini kita mendapatkan antusiasme baru dalam kehidupan berbangsa. Para pembimbing besar, dosen, mahasiswa dan alumni perguruan tinggi, mulai dari UGM, UI, UNPAD, UNEJ dan lain-lain menyatakan keprihatinan terhadap perkembangan nan dianggap tidak wajar,” papar Sudirman.

Menurut Sudirman, perihal itu menandakan bahwa Indonesia tetap mempunyai masyarakat akademik nan sehat, nan berani bersikap dan mengoreksi ketika terjadi penyimpangan dalam pengelolaan negara.

”Keberanian itu menyelamatkan bangsa kita dan menjadi daya segar bagi kekuatan moral nan mendambakan perubahan menuju situasi nan lebih baik,” tandasnya.

* Fakta alias Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran info nan beredar, silakan WA ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci nan diinginkan.

Selengkapnya
Sumber Liputan6
Liputan6