Kenaikan Cukai Rokok 10% Ancam Kelangsungan IHT di Jawa Timur

Sedang Trending 3 minggu yang lalu
ARTICLE AD BOX

Surabaya (beritajatim.com) – Kenaikan cukai rokok sebesar 10% nan bertindak mulai 1 Januari 2024, dinilai berakibat serius terhadap kelangsungan industri hasil tembakau (IHT) di Jawa Timur.

Hal ini disampaikan oleh Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, saat mengunjungi dua pabrik rokok di Jawa Timur, ialah CV Sayapmas Nusantara dan PT Gudang Baru Berkah.

Menurut LaNyalla, Jawa Timur merupakan wilayah nan berkontribusi signifikan terhadap produksi tembakau nasional.

“Kontribusi industri tembakau di Jawa Timur sendiri mencapai 33% dari nomor Produk Domestik Regional Bruto Jawa Timur. Sejumlah wilayah seperti Madura, Probolinggo, Pasuruan, Jombang dan Jember merupakan penghasil tembakau nan meliputi 50% persen produksi tembakau nasional,” kata LaNyalla.

LaNyalla menjelaskan, IHT merupakan salah satu aspek manufaktur nasional nan strategis dan mempunyai keterkaitan luas mulai dari hulu hingga hilir. Selain itu, IHT juga memberikan kontribusi besar dan berakibat luas terhadap aspek sosial dan ekonomi.

“IHT sendiri telah memberikan multiplayer effect kepada petani tembakau dan juga masyarakatnya, lantaran dengan semakin banyaknya tenaga kerja nan terserap, tentu bakal memberikan akibat berantai kepada perekonomian negara. Menurut saya, sejauh ini juga belum ada industri nan dapat menyerap tenaga kerja sebesar IHT,” tegas LaNyalla.

LaNyalla juga menyoroti sumbangan cukai rokok terhadap penerimaan negara. Tercatat hingga Oktober 2023, realisasi penerimaan cukai rokok sudah mencapai Rp163.2 triliun.

“Jangan sampai kenaikan cukai ini justru mematikan IHT nan tengah berkembang. Kita kudu ingat bahwa cukai berkarakter double function, ialah kegunaan budgetair dan regulerend. Ini krusial untuk dipahami, terutama juga nan sekarang menjadi primadona daerah, ialah Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau alias DBHCHT,” jelas LaNyalla.

LaNyalla pun meminta kepada pemerintah untuk memikirkan ulang kenaikan cukai tersebut. “Saya mengusulkan kepada pemerintah untuk menunda kenaikan tersebut untuk ditinjau kembali dengan memperhatikan beragam faktor,” saran LaNyalla.

GM CV Sayapmas Nusantara, Navaf, mengatakan, kenaikan cukai berakibat cukup besar terhadap perusahaan. Lantaran cukai nan naik, maka permintaan pasar terhadap produk olahan tembakau CV Sayapmas Nusantara mengalami penurunan permintaan.

“Karena kenaikan cukai, maka kami meningkatkan nilai pasaran. HPP naik, maka nilai pun naik. Imbasnya, permintaan menurun. Kami mendapat komplain lantaran nilai nan terus naik,” kata Navaf.

Bagian Hubungan Industrial PT Gudang Baru Berkah, Ziauddin, tak menampik jika kenaikan cukai berakibat pada penyesuaian nilai jual produknya di pasaran. “Kami melakukan perubahan nilai nan tentu saja berpengaruh terhadap konsumen. Maka, kami kudu memutar otak melakukan perubahan strategi penetrasi pasar. Kami kudu memberikan penjelasan kepada konsumen,” kata Ziauddin.

Ziauddin juga menjelaskan jika kenaikan nilai otomatis bakal dibarengi dengan peningkatan kualitas dan cita rasa produk. Sebab, konsumen banget sensitif terhadap rasa.

“Kami berambisi keberlanjutan industri ini mendapat kepastian dan perlindungan norma dari pemerintah. Apalagi kami juga dihadapkan pada produk ilegal. Kami berambisi dengan kepastian dan perlindungan norma dari pemerintah bakal tercipta pasar nan fair terhadap industri hasil tembakau,” minta Ziauddin.[rea]

Selengkapnya
Sumber Beritajatim
Beritajatim
↑