Kata KPK Soal Tersangka Baru Kasus Korupsi Pemeliharaan Jalur Kereta Api di Kemenhub

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
ARTICLE AD BOX

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Sementara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Nawawi Pomolango enggan berkomentar soal pihaknya nan sudah menetapkan tersangka baru dalam kasus dugaan suap proyek pemeliharaan jalur kereta api di Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

Tersangka baru itu ialah Muhamad Suryo, pengusaha asal Yogyakarta.

"No comment" ujar Nawawi di Gedung KPK, Jakarta Selatan, Senin (27/11/2023).

Sementara, Wakil Ketua KPK Johanis Tanak sempat membenarkan pihaknya sudah menjerat Suryo dalam kasus ini.

"Benar (Suryo tersangka)," ujar Johanis.

Johanis mengatakan saat ini pihaknya sedang mempersiapkan surat permintaan larangan berjalan ke luar negeri untuk Suryo. Johanis berambisi sikap kooperatif dari Suryo dalam menghadapi proses hukum.

"Masih dalam proses administrasi," ujar Tanak.

Dihubungi terspisah, Direktur Penyidikan KPK Brigjen Pol Asep Guntur Rahayu enggan membeberkan soal status Suryo. Asep meminta masyarakat menunggu keterangan resmi dari KPK.

"Begini, saat ini, seperti juga rekan-rekan mungkin sudah ketahui bahwa jika kelak ditetapkan sebagai tersangka alias misalkan diumumkan, pengumuman di KPK. Tersangka bakal diumumkan melalui konpers. Ditunggu saja rekan-rekan," kata Asep.

Beberapa Kali Diperiksa KPK

Pada proses investigasi sebelumnya, Suryo beberapa kali sudah diperiksa KPK dalam kapasitasnya sebagai saksi. Ia pernah diperiksa untuk tersangka Bos PT Istana Putra Agung Dion Renato Sugiarto nan sekarang telah berstatus terdakwa.

Putu Sumarjaya didakwa menerima suap proyek jalur kereta api berbareng sejumlah pihak. Salah satu pihak nan turut menerima suap tersebut ialah Muhammad Suryo. Suryo disebut menerima suap dengan julukan 'sleeping fee' sebesar Rp9,5 miliar.

Berdasarkan surat dakwaan Putu Sumarjaya, Suryo disebut turut menerima duit panas Rp9,5 miliar melalui pihak perantara berjulukan Anis Syarifah. Dengan rincian, Suryo menerima transfer pada 26 September 2022 berupa setoran tunai dari Tato Suranto Rp3,5 miliar dan Rp2,2 miliar. Kemudian, sebesar Rp1,7 miliar dari Freddy Nur Cahya dan sebesar Rp2,1 miliar dari Irhas Ivan Dhani.

Makelar Perkeretaapian

Suryo berbareng dengan pengusaha Wahyudi Kurniawan disebut sebagai makelar rekanan kontraktor perkeretaapian. Keduanya diduga melakukan pendekatan untuk mendapatkan pekerjaan dari Direktur Prasarana Perkeretapian Ditjen Perkeretaapian, Harno Trimadi.

"Bahwa sekitar pertengahan tahun 2022, terdakwa Putu Sumarjaya dan Harno Trimadi berjumpa dengan Muhammad Suryo dalam aktivitas kunjungan monitoring paket pekerjaan JGSS-04," dikutip dari surat dakwaan Putu Sumarjaya nan telah dibacakan jaksa KPK pada Kamis, 14 September 2023.

"Dalam pertemuan tersebut Muhammad Suryo menyampaikan keinginannya mengerjakan paket pekerjaan JGSS-06 nan belum dilelang dengan menggunakan perusahaan milik Sudaryanto ialah PT Calista Perkasa Mulia alias PT Wira Jasa Persada," imbuhnya.

Selanjutnya, Putu Sumarjaya meminta kepada PPK BTP Kelas 1 Wilayah Jawa Tengah, Bernard Hasibuan agar pekerjaan JGSS-06 diserahkan kepada Wahyudi Kurniawan dan Muhammad Suryo.

Lantas, Bernard Hasibuan melaporkan pengarahan Putu Sumarjaya tersebut kepada Harno Trimadi. Harno Trimadi menyetujui pengarahan Putu tersebut. Tapi, Harno juga meminta kepada Bernard agar memfasilitasi kemauan Anggota Komisi V DPR RI, Sudewo mengenai proyek JGSS 06.

"Kemudian Bernard Hasibuan menyampaikan pengarahan Harno Trimadi tersebut kepada terdakwa Putu Sumarjaya nan kemudian dijawab 'Ya sudah di akomodir'," ucap jaksa.

Suryo Diduga Dapat Jatah Rp11 Miliar

Namun, pada perjalanan PT Wira Jasa Persada nan dimakelarin Muhammad Suryo tidak menang dalam lelang proyek paket pekerjaan JGSS-06. Proyek tersebut dimenangkan oleh PT Istana Putra Agung.

Karena PT Wira Jasa Persada kalah dalam lelang tersebut, Bernard Hasibuan atas sepengetahuan Putu Sumarjaya meminta Direktur PT Istana Putra Agung untuk 'menggendong' Muhammad Suryo dan Wahyudi Kurniawan.

"Bernard Hasibuan juga menyampaikan kepada Dion Renato Sugiarto agar emberikan commitment fee sebesar 20% dari nilai paket pekerjaan alias sekitar Rp28 miliar sembari menunjukkan secarik kertas tulisan tangan nan berisi alokasi commitment fee," ujar jaksa.

Jaksa mengungkapkan, permintaan commitment fee nan disampaikan Bernard Hasibuan kepada Dion Renato Sugiarto tersebut bakal diberikan kepada beberapa pihak nan mengenai dalam proses pengadaan dan penyelenggaraan paket pekerjaan JGSS-06.

Adapun pihak-pihak nan menerima commitment fee dari Dion Renato Sugiarto tersebut yakni, Pokja sebesar 0,5%; Anggota Komisi V DPR, Sudewo; BPK sebesar 1%; serta Itjen sebesar 0,5% dengan total sebesar 2,5% dari nilai proyek Rp143,5 miliar alias sekitar Rp3.578.500.000.

Sedangkan fee sebesar 17,5% dari Rp139,9 miliar alias sekitar Rp24 miliar nan bakal diterima Bernard Hasibuan digunakan sesuai kesepakatan untuk sleeping fee kepada Muhammad Suryo sebesar Rp11 miliar.

Kemudian, hutang Balai sebesar Rp1,3 miliar; Putu Sumarjaya sebesar Rp1,5 miliar; operasional balai melalui Putu Sumarjaya dan Bernard Hasibuan Rp2,8 miliar; Wahyudi Kurniawan Rp1 miliar.

"Atas pengarahan Bernard Hasibuan, Dion Renato Sugiarto merealisasikan commitment fee nan seluruhnya berjumlah Rp18.396.056.750," ucap jaksa.

Nama Suryo Beberapa Kali Muncul di Persidangan

Selain itu, nama Muhammad Suryo juga sempat muncul dalam sidang dugaan suap pejabat DJKA dengan terdakwa Kepala Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Jawa Bagian Tengah Putu Sumarjaya dan pejabat kreator komitmen BTP Jawa Bagian Tengah Bernard Hasibuan, di Pengadilan Tipikor Semarang, Kamis (16/11/2023).

Dion Renato Sugiarto nan dihadirkan ke persidangan mengaku sempat menanyakan sosok pengusaha berjulukan Muhammad Suryo kepada tahanan lain di Rutan Polres Jaksel. Tak hanya itu, dia mengaku pernah diminta mengubah keterangannya di buletin aktivitas pemeriksaan (BAP).

Dion mengaku heran lantaran tiba-tiba didatangi Suryo saat tetap mendekam di tahanan.

"Pernah berjamu tanpa pemberitahuan ke penyidik. Padahal saat itu nan boleh mengunjungi hanya keluarga," kata Dion saat diperiksa sebagai saksi dalam sidang dugaan suap pejabat DJKA dengan terdakwa Kepala Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Jawa Bagian Tengah Putu Sumarjaya dan pejabat kreator komitmen BTP Jawa Bagian Tengah Bernard Hasibuan di Pengadilan Tipikor Semarang, Kamis (16/11/2023).

Saat bertemu, Suryo mau mengetahui keterangan nan disampaikannya dalam BAP. Setelah itu, Suryo meminta agar dirinya mengubah BAP dan menyatakan tidak mengenalnya.

"Diminta menyampaikan tidak mengenal Suryo dan tidak pernah memberikan duit melalui Yudi (Wahyudi Kurniawan)," katanya.

Usai pertemuan, Dion kemudian diberitahu latar belakang Muhammad Suryo oleh sesama tahanan KPK di rutan Polres Jakarta Selatan tersebut.

Ia mengatakan saat itu Bupati Bangkalan nan ditahan berbareng dirinya di rutan Polres Jakarta Selatan mengatakan bahwa Muhammad Suryo merupakan orang dekat Kapolda, Karyoto.

* Fakta alias Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran info nan beredar, silakan WA ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci nan diinginkan.

Selengkapnya
Sumber Liputan6
Liputan6