Kaodhi'en, Festival Ketahanan Pangan Lereng Argopuro di Desa Klungkung

Sedang Trending 3 bulan yang lalu
ARTICLE AD BOX

https: img.okezone.com content 2023 11 22 25 2925051 kaodhi-en-festival-ketahanan-pangan-lereng-argopuro-di-desa-klungkung-xKYlDaV8ju.jpeg Festival Ketahanan Pangan Lereng Argopuro di Desa Klungkung, Jember. (Foto: dok Kemendikbudristek)

JEMBER - Desa Klungkung, Kecamatan Sukorambi, Kabupaten Jember menyelenggarakan aktivitas berjudul “Kaodhi’en” Festival Ketahanan Pangan Lereng Argopuro pada 17-18 November 2023 dengan beragam kegiatan, di antaranya pameran foto, pasar produk, travel pattern, cooking class, workshop, dan seni pertunjukan.

Kegiatan ini adalah penerapan Program Pemajuan Kebudayaan Desa dan Rangkaian even Galang Gerak Budaya Tapal Kuda Tahun 2023.

Pelaksanaan aktivitas ini melibatkan seluruh lapisan masyarakat Desa Klungkung seperti pelajar, mahasiswa, komunitas, ibu-ibu kader dan PKK, golongan tani, seniman, pelaku budaya, dan empat desa tetangga dalam lingkup kecamatan sukorambi nan berada di area lereng Argopuro.

Kontribusi seluruh lapisan masyarakat dalam aktivitas ini adalah salah satu bentuk pembangunan ekosistem kebudayaan desa nan berkelanjutan.

Keberadaan pendamping kebudayaan desa (Daya Desa) dalam aktivitas ini juga sangat penting, ialah sebagai penyedia nan memudahkan dan memungkinkan terjadinya peningkatan daya masyarakat desa (subyek), sekaligus peningkatan daya kebudayaan desa (obyek).

Dengan adanya Daya Desa nan terlatih, diharapkan dapat membentuk Daya Warga, ialah sekelompok penduduk desa setempat nan berdaya, subyek pemajuan kebudayaan desa.

Kata “Kaodhi’en” berasal dari bahasa madura nan berfaedah “Kehidupan”. Tema Kaodhi’en berarti semua unsur nan ada baik sumber daya alam, sumber daya manusia, letak geografis, sejarah dan unsur budaya membentuk kehidupan masyarakat lereng Argopuro.

Secara geografis, sebagian besar masyarakat Desa Klungkung berjuntai pada bagian pertanian dan perkebunan.

Festival Ketahanan Pangan Lereng Argopuro di Desa Klungkung, Jember. (Foto: dok Kemendikbudristek)

Selain menghasilkan beras sebagai makanan pokok, Desa Klungkung juga menghasilkan bahan dasar pangan singkong, jagung, umbi-umbian, pisang dan tetap banyak jenis lainnya.

Bahan-bahan ini bisa menjadi bahan pangan pengganti pengganti beras dan makanan olahan berupa nasi sabreng (singkong), nasi bu’uk, nasi jagung, nasi kratok, nasi nangka, nasi singkong dan lain sebagainya.

Festival ini menjadi showcase bagi ketahanan pangan nasional nan berakar dari desa, dan bermaksud untuk mengenalkan dan menanamkan konsep ketahanan pangan pada seluruh lapisan masyarakat untuk membangun kesadaran dalam mengembangkan ketahanan pangan lokal serta bisa memproduksi beraneka macam makanan berbasis kearifan lokal.

Pangan lokal mempunyai peran dalam memperkuat daya tahan produksi pangan nasional. Secara alamiah pangan lokal sudah beradaptasi dengan karakter sumber daya alam dan sosial budaya masyarakat Desa Klungkung.

Festival Ketahanan Pangan Lereng Argopuro di Desa Klungkung, Jember. (Foto: dok Kemendikbudristek)

Kegiatan nan difasilitasi oleh Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemendikbudristek melalui program Pemajuan Kebudayaan Desa ini menekankan pada aspek ketahanan pangan sebagai modal utama dalam penerapan pemajuan kebudayaan.

Selain Desa Klungkung, di wilayah tapal kuda Jawa Timur, fasilitasi juga diberikan kepada desa-desa nan mempunyai komitmen dalam perihal ketahanan pangan yaitu, Desa Kandangan di Kabupaten Lumajang, Desa Bugemen di Kabupeten Situbondo, dan Desa Kemiren di Kabupaten Banyuwangi.

Program Pemajuan Kebudayaan Desa nan telah berjalan sejak 2021 ini, pada tahun ketiga lebih menekankan pada tahap pemanfaatan potensi budaya dan kearifan lokal desa nan mengenai dengan ketahanan pangan, serta mendorong Pemanfaatan Dana Desa untuk Pemajuan Kebudayaan melalui penyusunan Dokumen Pemajuan Kebudayaan Desa (DPKD) sebagai modal penyusunan RPJMDes.

Pada 2023 ini Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan bakal memfasilitasi sebanyak 230 desa di seluruh Indonesia untuk melaksanakan penyusunan DPKD (Dokumen Pemajuan Kebudayaan Desa) sebagai referensi bagi desa dalam melaksanakan pembangunan desa nan bersinambungan, khususnya di bagian kebudayaan.

Follow Berita Okezone di Google News

(Wul)

Selengkapnya
Sumber Okezone
Okezone