Datangi DPRD Sampang, Para Ulama Ingin Pastikan Pemilu Jurdil

Sedang Trending 3 bulan yang lalu
ARTICLE AD BOX

MADURANEWS.CO, Sampang– Para ustadz nan tergabung dalam Aliansi Ulama Madura (AUMA) menggelar Audiensi ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur. 

Hadir dalam aktivitas nan diselenggarakan di ruang Komisi Besar Kantor DPRD Sampang itu, Pimpinan dan personil DPRD Sampang, Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Sampang.

Ketua AUMA Sampang, KH.Yahya Hamiduddin mengatakan, bahwa kehadiran para ustadz ke DPRD itu lebih ke ikut sertaan pihaknya dalam mengawasi proses tahapan pemilu nan jujur dan setara (jurdil). Dan kasus-kasus nan terjadi di pemilu-pemilu sebelumnya adalah sebuah pelajaran gimana kedepan lebih baik. Para ustadz tidak mau hal-hal nan terjadi di beberapa tahun lampau itu terjadi lagi di pemilu 2024 mendatang.

“Bagaimana peran serta dari Forkopimda, termasuk para peserta pemilu itu sendiri,” katanya, Senin (20/11/2023).

Maka pihaknya hari ini duduk berbareng dengan DPRD, KPU, dan Bawaslu dalam rangka menemukan titik jumpa agar pemilu bisa melangkah dengan damai, jujur dan adil.

“Saya memandang pasti ada sesuatu nan kurang. Tetapi kekurangan itu menjadi bagian untuk kita perbaiki berbareng menuju arah nan lebih baik,” tuturnya.

Sementara Ketua KPU Sampang, Addy Imansyah menyampaikan, jika apa nan dilakukan oleh para tokoh masyarakat, ulama, kiyai, dan habaib itu merupakan suatu perihal nan positif untuk memastikan penyelenggaraan tahapan pemilu melangkah dengan lancar, baik, aman, damai, dan demokratis. Menurut Addy itu sangat relevan dan sesuai dengan angan pihaknya sebagai penyelenggara. 

“Kami sangat aspiratif terhadap aspirasi masyarakat tersebut. Karena kami kan mendorong ini untuk gimana meningkatkan kualitas partisipasi, bukan sekedar kehadiran di DPRD, tetapi keterlibatan dalam tahapan proses,” ujarnya.

Addy juga menambahkan, jika pihaknya menanggapi positif, dan pihaknya merasa ada dorongan spiritual dan moril untuk bisa bekerja lebih baik lagi. Karena pemilu itu menurut dia banyak sekali, dan teknis penyelenggaraannya adalah tugas KPU.

Tapi tugas mewujudkan pemilu nan adil, demokratis dan sebagainya itu banyak variabelnya, banyak determinan terhadap kualitas demokrasi, bisa partai politiknya, alias peserta Pemilunya. Kemudian juga pemerintahnya, budaya alias kultur masyarakatnya, itu adalah sistem.

“Kami sebagai tatanan pelaksana sistemnya kelak bakal melibatkan ribuan penyelenggara. Kurang lebih ada 19 ribu lebih KPPS nan kita nan kita didik. Dan itu bukan perkara gampang,” ungkapnya.

Dia juga menuturkan, bahwa mestinya pemilu itu menjadi kesempatan untuk membangun harapan. Namun lantaran mungkin ada narasi-narasi di Media sosial nan kemudian membangun persepsi masyarakat untuk menanyakan integritas, tanggung jawab, kemandirian, dan profesionalitas dari penyelenggara terhadap proses.

“Saya kira semua wilayah itu pasti ada kasus nan sama, dan hanya gimana mereka meresponsnya. Dan KPU Sampang mulai dari pemilu 2014 – 2019 itu sudah banyak perbaikan,” pungkasnya. (san)

Selengkapnya
Sumber Madura News
Madura News