Cara Menghitung HPL yang Benar!

Sedang Trending 3 bulan yang lalu
ARTICLE AD BOX

HPL alias hari perkiraan lahir merupakan waktu perkiraan persalinan. Mengetahui kapan HPL bakal terjadi krusial untuk persiapan menyambut buah hati. HPL adalah perkiraan waktu lahirnya bayi, namun hanya 4 persen nan lahir tepat pada kalkulasi HPL.

Tanggal HPL ini dapat maju ataupun mundur. Beberapa aspek nan memengaruhinya antara lain perubahan posisi bayi dalam rahim hingga berubahnya ukuran leher rahim. Mereka nan leher rahimnya pendek condong melahirkan lebih awal. Leher rahim nan pendek membantu kepala bayi turun menuju jalan lahir lebih mudah.

Di sisi lain, posisi bayi juga menentukan maju mundurnya kalkulasi HPL. Jika kepala bayi tidak berada pada posisi nan tepat pada kehamilan normal, maka Mums memerlukan waktu untuk menempatkan kepala bayi pada posisi nan tepat. JIka posisi nan diharapkan tidak kunjung terjadi hingga usia kehamilan lebih dari 40 minggu, biasanya master bakal merekomendasikan untuk persalinan caesar.

Bagaimana Cara Menghitung HPL?

Tanggal Pembuahan

Ada beberapa langkah untuk menentukan tanggal HPL. Salah satunya adalah mengetahui kapan hari pertama Mums hamil. Secara sederhana Mums dapat menghitung HPL dengan menambahkan 38 minggu dari hari tersebut mengingat usia kehamilan seseorang umumnya menyantap waktu sekitar 38 minggu.

Sayangnya kebanyakan wanita tidak tahu persis kapan mereka hamil. Sperma dapat hidup hingga lima hari di dalam tuba falopi. Artinya, bisa jadi lima hari setelah berasosiasi seks, Mums baru melepaskan sel telur (ovulasi) dan sel telur tersebut dibuahi oleh sperma nan menunggu. Pada hari itulah Mums hamil.

Jika Mums tidak mengetahui hari pembuahan ada beberapa langkah nan bisa Mums lakukan.

HPL Berdasarkan Hari Pertama Menstruasi Terakhir

Metode ini menghitung HPL dari kalkulasi hari pertama menstruasi terakhir. Rata-rata kehamilan berjalan selama 40 minggu (atau 280 hari) dari hari pertama menstruasi terakhir. Maka Mums tinggal menambahkan 280 hari dari hari pertama menstruasi terakhir Mums. Namun perlu dicatat, Mums juga perlu memperhitungkan rata-rata siklus menstruasi nan dimiliki.  Jika siklus menstruasi lebih panjang dari siklus rata-rata 28 hari, maka HPL bakal maju (waktu kehamilan bakal berkurang), sebaliknya jika siklus menstruasi lebih pendek dari rata-rata 28 hari, maka HPL bakal mundur.

Mums juga dapat mengurangi tiga bulan dari hari pertama menstruasi terakhir dan menambahkan tujuh hari untuk menentukan HPL

Mengetahui HPL lewat ultrasound

JIka tanggal menstruasi terakhir Mums tidak ingat, alias tanggal pembuahan tidak diketahui dengan yakin, Mums dapat mengetahui HPL lewat USG dini. Waktu USG awal terkadang dapat menentukan usia kehamilan dengan lebih jeli daripada mengecek periode menstruasi terakhir dan tanggal pembuahan.

Namun tidak semua ibu mengandung melakukan USG awal pada janji jumpa pemeriksaan awal. Banyak master melakukan ini untuk semua pasien hamil, sementara nan lain hanya melakukannya jika HPL tidak dapat dihitung dengan metode biasa alias ditentukan melalui pemeriksaan fisik.

Menghitung HPL untuk Kehamilan IVF 

Ketika melakukan program IVF, Mums dan master bakal mengetahui tanggal pembuahan sel telur dan pemindahan embrio ke rahim. Selanjutnya untuk menentukan HPL, Mums dapat menambahkan 266 hari sejak tanggal pembuahan.

Perhitungan ini diperuntukkan bagi mereka nan mempunyai siklus menstruasi setiap 28 hari sekali. HPL ditentukan dari tanggal transfer embrio. Untuk menghitung usia kehamilan IVF pun dapat menggunakan pemeriksaan USG.

Dapatkah tanggal HPL direncanakan?

Mums bisa saja merencanakan kehamilan di bulan tertentu agar buah hati lahir di kisaran tanggal nan diinginkan. Namun bagaimanapun kehamilan bukan perihal nan pasti dapat diatur sesuai keinginan. Mungkin Mums bisa langsung mengandung saking suburnya, namun untuk memetakan dengan persis kapan bayi bakal lahir tetap tidak mudah, ada banyak aspek nan bakal memengaruhinya. Mums hanya dapat memperkirakan saja itulah sebabnya disebut Hari Perkiraan Lahir.

Referensi:

Whattoexpect.com

Babycenter.com

Forbes.com

Selengkapnya
Sumber Gue Sehat
Gue Sehat