10 Lembaga Pemerintah dan Swasta Siap Dampingi Kampus di Jatim Jalankan MBKM Mandiri

Sedang Trending 4 bulan yang lalu
ARTICLE AD BOX

Surabaya (beritajatim.com) – Sebanyak 10 lembaga pemerintah dan swasta siap mendampingi perguruan tinggi se-Jatim untuk menjalankan program MBKM Mandiri dengan konsentrasi beragam masalah sosial.

Kesiapan itu tertuang dalam nota angan berbareng nan ditandatangani 10 calon mitra MBKM dan 33 perwakilan kampus swasta se-Jatim usai aktivitas Multistakeholder Dialogue (MSD) MBKM Mandiri di Universitas Ciputra Surabaya.

MSD itu untuk mempertemukan para pihak, ialah perguruan tinggi, pemerintah, sektor bisnis, dan organisasi kemasyarakatan, untuk mendiskusikan gimana menyelesaikan persoalan di lingkungannya.

Baca Juga: Putaran Kedua, Gombau Siap Gembleng Pemain Muda Berbakat Persebaya

Para calon mitra nan datang dalam MSD itu antara lain Pemprov Jatim, Pemkab Sidoarjo, Pemkot Surabaya, Apindo Jatim, BNN Jatim, Kadin Jatim, Lembaga Manajemen Infaq, PT Cadfem Simulation Technology Indonesia, PT Amati Karya Indonesia, dan BRI Cabang Rajawali Surabaya.

Untuk diketahui, MSD tersebut merupakan lanjutan dari bimtek MBKM Mandiri. Bimtek ini diselenggarakan agar kampus dan para pihak mengenai bisa melaksanakan MBKM secara berdikari di kampusnya.

Kepala Bagian Umum LLDIKTI Wilayah VII Jatim Ivan Rovian mengatakan bahwa program MBKM adalah bagian dari upaya Kemendikbudristek menjawab tantangan global, ialah dengan mengakselerasi sistem pendidikan tinggi di Indonesia.

Baca Juga: Bogem Warganya, Oknum Sekdes di Sampang Divonis Tiga Bulan Penjara

“Akselerasi tersebut bermaksud agar lulusan perguruan tinggi lebih relevan dengan konteks dan zamannya,” kata Rovian, ditulis Kamis (19/10/2023).

Rovian mengatakan, LLDikti VII Jatim berkomitmen untuk mendorong suasana ber-MBKM secara mandiri, khususnya di lingkungan kampus swasta di Jatim. “Kami bakal terus mendorong agar semakin banyak perguruan tinggi di Jawa Timur nan terlibat dalam MBKM Mandiri,” katanya.

Sementara itu, Rektor Universitas Ciputra Surabaya Ir Yohannes Somawiharja mengatakan, sejak kemunculan internet, para mahir sudah meramalkan bahwa perguruan tinggi bakal mengalami disrupsi.

Ia menilai, kebijakan MBKM nan diluncurkan oleh Kemendikbudristek sebagai respon terhadap disrupsi, sekaligus menjadi disrupsi itu sendiri.

Baca Juga: Warga Gresik Keberatan Munculnya Rencana Retribusi Sampah

“Program MBKM ini memberi mahasiswa kebebasan untuk mendapatkan skill nan spesifik, seperti menjadi food vlogger, fashion commentator, youtuber, tiktoker, dan jenis kemungkinan nan lain,” tuturnya.

Sayangnya, kata dia, kampus tidak cukup responsif terhadap perubahan dan disrupsi itu. “Perguruan Tinggi salah satu lembaga paling susah berubah lantaran banyak orang pandai di dalamnya. Pintar secara akademik tetapi susah untuk beradaptasi dengan hal-hal baru,” ujarnya. [ipl/ian]


Baca buletin lainnya di Google News alias langsung di laman Indeks


Navigasi pos

Selengkapnya
Sumber Beritajatim
Beritajatim